Dari hati, sampai ke hati. :)

Photobucket

Malu brtanya sEsAt jalaN.....

ukhwahfiLlah..^_^

Thursday, May 27, 2010

caWan..

BismiLlahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum wa salam mahabbah..
insyaAllah,hari ni kita isi rohani kita dengan sedikit roh perjuangan..
jangan futur wahai mujahid ad-deen..
bangkitlah dikau!!
sesungguhnya dengan mengingati Allah,
hidupmu akan tenang,insyaAllah..=))

~Kisah ini merupakan satu teladan kepada kita semua tentang kenapa selama ini kita sering ditimpa dugaan yang adakalanya sukar untuk kita tanggung dan terlalu menyakitkan.
Al-kisah bermula…

Sepasang datuk dan nenek pergi belanja di sebuah kedai cenderamata untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada cawan yang cantik.
"Lihat cawan itu," kata si nenek kepada suaminya
.
"Kau betul, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si datuk.
Pada ketika mereka mendekati cawan itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara,

"Terima kasih untuk perhatian anda, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik.
Sebelum menjadi cawan yang dikagumi, aku hanyalah selonggok tanah liat yang tidak berguna.
Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pening.
Stop ! Stop ! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, 'Belum !' Lalu ia mulai menyodok dan meninju aku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam api. Panas! Panas ! Teriakku dengan kuat. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.
Tapi orang ini berkata, 'Belum !' Akhirnya ia mengangkat aku dari api itu dan membiarkan aku sampai sejuk. Aku fikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum.

Setelah sejuk aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita itu berkata, ' Belum !' Lalu ia memberikan aku kepada seorang lelaki dan ia memasukkan aku sekali lagi ke api yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya.
Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan sejuk. Setelah benar-benar sejuk seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca.
Aku melihat diriku.Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, kerana di hadapanku berdiri sebuah cawan yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku." Datuk dan nenek itu terdiam membisu. Lalu diceritakan kisah itu kepada cucunya.


Pengajaran:

Seperti inilah kehidupan membentuk kita. Dalam perjalanan hidup akan banyak kita temui keadaan yang tidak menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi 'cantik'.

Jangan lupa bahawa dugaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Ertinya tidak ada alasan untuk tergoda dan jatuh dalam dosa apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, kerana Tuhan sedang membentuk anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk anda untuk kehidupan yang lebih baik dan bermakna di hari kemudian dan hari pembalasan (akhirat). Semoga bermanfaat..Wallahu’alam.

Friday, May 21, 2010

Always be TherE..~

Always Be There -Maher Zain





Allahuakbar…

If you ask me about love
And what I know about it
I’ll answer would be .....

It’s everything about Allah
The pure love to our soul
Who have created you and me,
The heaven and whole universe
The One that made us hold and free
The Guardian of His True believers

So when the time gets hard
There’s no way to turn
As He promises to you
He’ll always be there
To bless us with His love and His mercy coz
As He promises to you
He’ll always be there

He’s always watching us, guiding us
And He knows what’s in our little heart
So when you lose your way to Allah
You should turn
As He promises to you He’ll always be there ...

Could bring the sun from the darkness
Into the light
Subhanallah
Capable of everything
Should never feel afraid of anything
As long as we follow His guidance
All the way through a short time
We have in this life
Soon it’ll all be over
And we’ll be in His heaven
And we’ll all be fined

So when the time gets hard
There’s no way to turn
As He promises to you
He’ll always be there
To bless us with His love and His mercy coz
As He promises to you
He’ll always be there
He’s always watching us, guiding us
And He knows what’s in our little Heart
So when you lose your way to Allah
You should turn
As He promises to you He’ll always be there

Allahuakbar ...

innallahama'ana...

Sunday, May 9, 2010

luv Ummi!!~

BismiLlahirrahmanirrahim...
Assalamualaikum wa salam mahabbah fiLlah buat semua saudara seislamku yang dicintai kerana Allah..moga Allah mempertautkan hati kita dalam meraih cintaNya yang suci lagi hakiki..post kali ni istimewa buat kekasih hati yang sentiasa bermain di minda,ummi...

bil mahabbah,

AlhamduliLlahirrabilalamin..
Engkau telah mengurniakan daku,
seorang srikandi Islam,
qudwah hasanah buat diri,
seorang ibu yang sangat mengasihi..

ummi,
sedang daku diberi kekuatan,
untuk melakar puisi buat dirimu,
dikau sedang berjuang,
dalam melahirkan keluarga sakinah,
kembali bertemu menaut kasih,
di Taman Jannah terindah,
insyaAllah....

tak mampu lagi untukku melakar kalam,
walau seindah langit lazuardi,
kerana keringat yang telah ummi kerahkan,
terkatup bicara,
membuka pintu qalbu..

ummi,
ampun maaf dipinta,
atas khilaf anakmu yang sentiasa ingin bermanja,
bersama bonda tercinta,
atas salah kelakuan,
yang memerlukan bimbingan..

Ya Rahman,
Ampunilah dosaku,
dosa kedua ibu bapaku,
dan Engkau kasihanilah mereka,
seperti mana mereka mengasihaniku,
sewaktu daku masih kecil..
amin........

~moga mi sentiasa berada di bawah lembayung rahmatNya tiap masa..insyaAllah..


.::CINTA PADA ALLAH::.
.::KASIH PADA RASULULLAH::.
.::SAYANG PADA UMMI::.

Thursday, May 6, 2010

Antara KitabAllah dan Kitabulwajh..


Sekadar sebuah komentar di laman facebook..

Hanya tersenyum dari jauh, sejauh senyuman arwah Nabil dan kak Hajar meninggalkan kita.


Now all over the world know why and why that's Islam is so and so. It's not Islam should be blamed over, it's muslims who cross over. No wonder why people run away from the truth, no wonder why the Prophet's peace be upon him sadly cried. It's us whose fancy most the 'kitabulwajh'(Read: FB) and let the 'kitabullah' just keep clean, clear and untouched from day to day, time to time. We claimed pursuing jannah, but we act no towards it. We know Izrail 70times visit us everyday, but have prepared for the promised time with him even an hour a day? -That's all is not me who wrote why, how, so and so, we and so on. It's all stated in the 'kitabullah' (not kitabulwajh), sunnatu rasulihi, and consensus of ulama' that some people say they life for it, they strive for it. Honestly, do we really life for it and strive for it?

Kita diazankan di telinga kanan sewaktu lahir, kemudian diiqamatkan di telinga kiri. Kemudian kita disolatkan setelah mati. Antara azan, iqamat dan solat...alangkah singkatnya masa hidup ini untuk diberikan kepada selainNya.

Dr Yusuf Qardawi mengatakan hidup ini adalah untuk tauhid, kerana tauhid dan demi menegakkan tauhid serta mati kerana tauhid. Itulah intipati seruan azan, iqamat dan solat.

Menyeru manusia membesarkan Allah, mengajak manusia mencintai Nabi dan menyuruh manusia menegakkan agamaNya.

Azan, iqamat dan solat, itulah 3 perumpamaan indah dan mudah Allah berikan jika dapat kita mengaitkannya dengan kelahiran, kehidupan dan kematian.


Andai solat itulah kematian. Benarlah sekali kesan solat itu memberi natijah pertemuan kita dengan Allah kelak. Kalau solat yang dikatakan medan bicara sama Allah kita abaikan khusyuknya, usah marah jika Allah mengabaikan kita di medan bicara akhirat. Kalau al-Quran adalah Kitabullah yang kita gantikan dengan kitabulwajh sebagai teman hidup kita. Jangan marahkan diri dan Allah jika Allah menyembam muka kita dan membuat kita berjalan dengan muka dihari mahsyar kelak, bukan dengan petunjuk cahaya al-Quran yang kita selalu damba-dambakan. Kalau solat berjemaah yang begitu sekali tinggi dan hebatnya falsafah kepada pentingnya hidup berjemaah dalam membawa Islam kita tinggalkan.. jangan mengeluh jika diakhirat nanti kita keseorangan dihumbam neraka.

Semua kata-kata ini bukanlah marahan maupun cacian. Ianya lahir dari hati yang sayangkan pejuang-pejuang dan mereka-mereka yang cintakan kebaikan dan kebenaran. Moga Allah memasukkan kita semua dikalangan ikhwan Baginda yang mahu diterima-Nya.

Semua kata-kata diatas juga bukanlah milik penulis yang hina lagi berdosa ini. Ianya untaian butir-butir mutiara dari kitabullah, sunnah, ijma' ulama dan qias. Bukan dari 'kitabulwajh' senjata lucifer dan pengikut-pengikutnya.

Dah jadi entri blog lah pula panjang macam ni. Harap ada manfaat.
Salam sayang buat semua.
INI LANGKAHKU!, LANGKAH KITA BERSAMA!

Islam,
“If you’re not ready to die for it, put the word “freedom” out of your vocabulary.” – Malcolm X

..sekadar perkongsian..

sumber: http://nuruddinzenki.blogspot.com/

Friday, April 30, 2010

Bertunang dengan ....

such a beautiful life with al-Quran and as-Sunnah..~

Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.

Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"

Aku menjawab tenang.. "Warna putih, bersih..."


"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.

Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah. Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.

Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.

"Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."

Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.

"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.

"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..." Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.

"Jemput ana tau!" Khalilah tersenyum megah.

"Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!" Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.

"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."

Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

"Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.

"Insyirah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddal, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."

Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.

..........................
.............

"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."

"Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."

"Ya Allah, tenangnya..."

"Moga Allah memberkatinya...."

Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.

Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.
Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.
Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.

Dalam sedar tidak sedar...

Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."

Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

"Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"

Ibu tenang menjawab... "Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."

"Allahuakbar..." Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."

Ibu angguk, tersenyum lembut... "Ini nak, bukunya." Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

"Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan..."

Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.

"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu
Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."

Tuesday, April 27, 2010

Aku pingin masuk SYURGA...~

“Ibu pingin masuk syurga ?” soal seorang pemidato cilik di atas pentas. “Ya,” bergema hadirin menjawabnya. “Bapak pingin masuk syurga?” soal Bunga lagi. “Ya,” sekali lagi dewan itu bergema dengan jawapan para hadirin. “Maka, kita perlu mempersiapkan ole – ole sebelum ke sana. Jika ole – olenya bagus, ke syurga. Tapi kalau ole – olenya jelek, gobrok neraka,” terang si kecil itu.

Aku tersentak tatkala sepasang tangan singgah di atas bahuku. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Adik berangan ye. Jom makan, ibu dah siapkan makanan kegemaran adik, ayam masak merah dan tomyam,”ujar ibu.

“Wah, bestnya! Ni yang membuatkan adik makin sayang pada ibu,” pujiku.

“Tutup video tu dulu,” pesan ibu sebelum berlalu pergi.

Aku melaksanakan perintah ibu dan membuntutinya ke dapur. Bau masakannya sahaja cukup membuatkan aku berasa cukup lapar. Tanganku basuh dan doa kubacakan. Keasyikan menikmati masakan ibu hampir membuatkan aku terlupa sesuatu.

“Ibu, adik pingin masuk syurga! Apa ye ole – ole yang adik perlu bawa untuk masuk syurga bu?” soalku dengan penuh harap.

Ibu merenungku sekejap, kemudian tersenyum. “Bagus anak ibu, adik makan dulu. Lepas makan nanti, kemaskan semua ni dan ibu juga ada ole – ole untuk adik,” terang ibu.

Selepas membersihkan ruang makan, ibu menunaikan janjinya. Pembalut hadiah kubuka dengan penuh berhati – hati. Diari pink yang di dalamnya tercetak terjemahan al – Quran. Ibu kupeluk erat.

“Terima kasih, ibu,” ucapku.

“Di dalamnya, tertulis kata – kata Allah yang menjadi panduan untuk kita ke syurganya. Cuba adik buka surah ke – 29, ayat ke 45,” terang ibu sambil membacakan terjemahannya.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al-Ankabut[29]:45)

“O… jadi untuk masuk syurga, adik perlu baca Quran dan solat tepat waktu ye, ibu?” soalku.

“Betul tu, solat dapat mencegah kita dari membuat dosa, apabila kita tidak berdosa, maka insyaAllah kita layak ke syurga,” terang ibu.

“Lagi bu?” soalku.

“Ok, adik tahu ayat apa yang menerangkan tentang aurat wanita?” soal ibu menguji pengetahuanku.

“Emm… ayah kata surah an-nur, ayatnya adik lupa la bu…” jawabku sedih.

“Ayat ke-31, bunyinya seperti ini…”

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". (An-Nur[24]:31)

“Ibu.. ibu… adik dah kira layak masuk syurga la ye, sebab adik dah pakai tudung ?” soalku lagi .


“Aurat wanita ialah semua anggota badannya kecuali muka dan tapak tangan, tapi adik belum pakai stokin lagi kalau keluar rumah, baju lengan panjang dan pakaian tidak boleh menampakkan bentuk tubuh,” ulas ibu.

“Panaslah bu, adikkan cepat berpeluh,” keluhku.

“Itulah bayaran untuk membeli tiket ke syurga. Tadikan katanya pingin masuk syurga,” ujar ibu mengingatkan kata – kataku tadi.

“InsyaAllah, adik cuba. Ibu doakan adik masuk syurga ya,”pintaku.

“InsyaAllah, kita semua pasti masuk syurga dengan rahmat Allah jika kita sanggup untuk taat pada segala perintahNya,” jawab ibu mengakhiri perbualan kami.

Saturday, April 24, 2010

spirit 0f d Companion..


Spirit of The Companion
Knowing them... and do'a for others.....


Khalid bin Walid,
The "Sword of Allah,"
Didn't let the flag fall,
in the Battle of Mu'ta.

He fought in many battles,
Was the greatest army head,
A valiant fighter,
who died in bed.

Disturbed by discord among Muslims,
was Jamaluddin Afghani
The Muslim Missionary,
and caller to Islamic Unity

Salahuddin Ayubi,
treated enemies charitably,
Liberated Jerusalem to people’s joy,
Was patient, fair, and devoutly.

Imam Bukhari,
Took great pains
He collected a hadith,
for heavenly gains

A learned person was he,
With a great memory
and is also well known,
for his work and piety.

Imam Abu Hanifa,
A great merchant,
A great scholar of fiqh,
Who encouraged education.

All these role models,
So pious and great.
Let’s not only praise them,
But strive to emulate.

Mujahidah s0lehah..


..Seuntai Madah Buatmu..
..Buatmu mujahidah solehah..
Dengan kecantikanmu, kau lebih elok dari mentari..
Dengan akhlakmu, kau lebih wangi dari kasturi..
Dengan rendah hatimu, kau lebih tinggi dari rembulan..
Dengan kelembutanmu, kau lebih halus dari rintik hujan..
Maka pertahankanlah keindahan ini,
agar kau terus-terusan menjadi sayap kiri,
perjuangan islami,
penegak kalimah Allah di muka bumi..

Tuesday, April 20, 2010

ukhtifiLlah..


Ukhtifillah..
(Surat Terbuka Seorang Ikhwan untuk Seluruh Akhwat di Dunia)


Ukhtifillah,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakan mu
dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,
karenanya kau tak menginginkan persamaan.

Ukhtifillah,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh,
karena akan membuatku mengingatmu.
Bererti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa,sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir
dalam khayalku yang masih penuh lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Ukhtifillah,
Berdua menghabiskan waktu denganmu
bagaikan mimpi tak berpenghujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan keinginan diri,
meski hujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan keinginan ku
kerana sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Ukhtifillah,
Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untukmelihatku.
Bukan kerana aku terlalu indah, tapi kerana aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku,
mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Kerana kau hanya manusia-hanya wanita.


Ukhtifillah,
Beri sepenuh diri pada sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

Ukhtifillah,
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tiada sampai kau mati.
Mungkin itu bererti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,yang kau bangun dengan segala kekhusyukan tangis do'amu.

Ukhtifillah,
Pilihan Allah tak selalu seindah keinginanmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tiada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yangterpilih itu,melainkan pada jalan yang kaupilih, seperti kisah seorang wanita di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi. Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.